Wednesday, February 20, 2013

B.3 Macam-macam masyarakat multikultural


1.   Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang.
Yaitu masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komonitas atau kelompok etnis yang memiliki kekuatan kompetitif seimbang.
2.   Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan.
Yaitu masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komonitas atau kelompok etnis yang kekuatan kompetitifnya tidak seimbang.salah satunya yang merupakan kelompok mayoritas memiliki kekuatan yang lebih besar daripada lainnya.
3.   Masyarakat majemuk dengan minoritas dominan.
Yaitu masyarakat yang diantara komunitas atau kelompok etnisnya terdapat kelompok minoritas, tetapi mempunyai kekuatan kompetitif diatas yang lain.
4.   Masyarakat majemuk dengan fragmentasi.
Yaitu masyarakat yang terdiri atas sejumlah besar komunitas atau kelompok etnis dan tidak ada satu kelompok pun mempunyai posisi politik atau ekonomi yang dominan.

B.2 Faktor penyebab munculnya masyarakat multikultural


1.   Latar belakang historis.
2.   Kondisi geografis.
3.   Keterbukaan terhadap budaya luar.

Dalam suatu masyarakat,kita pasti menemukan banyak kelompok masyarakat yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.Perbedaan karakteristik itu berkenaan dengan tingkat diferensiasi dan stratifikasi sosialnya.Masyarakat multikultural disebut juga masyarakat majemuk.

B.1. KELOMPOK SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL


Masyarakat Multikultural


Pengertian Masyarakat Multikultural

Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari dua kelompok masyarakat atau lebih yang memiliki perbedaan karakteristik dan kebudayaan yang beragam.

Naluri manusia adalah ingin hidup dengan dengan orang lain,oleh karena itu secara otomatis akan lahir masyarakat yang berarti kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu, yang bersifat kontinue atau terikat oleh identitas bersama.

Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang memiliki berbagai kultur dan terbentuknya masyarakat tersebut karena adanya proses sosial dan perubahan-perubahan sosial.Masyarakat multikultural secara sederhana adalah masyarakat yang memiliki beragam kebudayaan yang berbeda-beda.

A.10. DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL


DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL (SOSIOLOGI)
A. PENGERTIAN DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL
Kelompok sosial adalah kumpulan- manusia yang memiliki persamaan ciri dan memiliki pola interaksi yang terorganisir serta terjadi secara berulang-ulang dan memiliki kesadaran bersama akan keanggotaannya.
B. FAKTOR-FAKTOR PENDORONG DINAMIKA KELOMPOK
Faktor Pendorong dari Luar Kelompok (extern)
1. Perubahan situasi sosial
2. Perubahan situasi politik
3. Perubahan situasi ekonomi
4. Pergantian anggota kelompok
Faktor Pendorong dari Dalam Kelompok
1. Adanya konflik antar anggota kelompok
2. Adanya perbedaan kepentingan
3. Adanya perbedaan paham
C. PROSES PERKEMBANGAN BHERBAGAI KELOMPOK SOSIAL
1. Keluarga
2. Kelompok Kekerabatan
3. Kelompok okupasional
4. Kelompok volunter
5. Masyarakat desa (rural community)
6. Masyarakat kota (urban community)
Faktor-faktor penyebab penduduk kota bersifat dinamis antara lain :
1) Faktor pendidikan
2) Urbanisasi
3) Komunikasi
4) Indrustri dan mekanisasi
Berkembangnya masyarakat kota
Sedikitnya ada dua aspek untuk melihat perkembangan masyarakat kota yaitu :
a. Perkembangan masyarakat desa menjadi masyarakat kota
b. Bertambahnya penduduk kota akibat adanya urbanisasi
D. POLA HUBUNGAN ANTAR KELOMPOK
Hubungan antar kelompok merupakan inti yang menjadi sebab perubahan/perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat. Pola hubungan antar kelompok sosial meliputi :
1. Eksploitasi
Keunggulan dalam ciri-ciri fisik pernah mengakibatkan ekploitasi kelompok orang kulit putih terhadap orang kelompok hitam. Bentuk eksploitasi ini berupa perbudakan.
2. Diskriminasi
Yaitu perlakuan yang berbeda-beda yang dialami seseorang atau sekelompok orang mengenai hal-hal tertentu.
3. Segregasi
Segregasi merupakan pemisahan kelompok sosial berdasarkan tradisi atau hukum kelompok yang mengalami perlakuan ini biasanya berbeda dalam hal asal usul ethnik, agam atau kebudayaan.
4. Paternalisme
Paternalisme biasanya dijadikan pola kerja sama antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil.
5. Difusi
Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan. Difusi berlangsung dua arah, yaitu saling memberi dan saling menerima.
6. Asimilasi
Yaitu suatu proses sosial dimana dua masyarakat yang berbeda kebudayaan hidup berdampingan dalam waktu yang lama.
7. Akulturasi
Yaitu suatu proses sosial dimana dua masyarakat yang berbeda kebudayaan hidup berdampingan dalam waktu yang lama.
8. Integrasi
Yaitu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan dalam masyarakat, namun tidak memberi perhatian khusus pada perbedaan tersebut.
Ada beberapa model strategi integrasi antara lain :
a. Full asimilation
b. Cultural pluralism
c. Melting pot
E. KEANEKARAGAMAN SUKU BANGSA DI INDONESIA
Keanekaragaman suku dan budaya Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Induk Bangsa (ras)
2. Lingkungan geografis
F. DAMPAK YANG TIMBUL AKIBAT (DINAMIKA) KELOMPOK SOSIAL
1. Terjadinya antagonisme antar kelompok
2. Terjadinya gerak/perilaku kolektif
3. Primordialisme
4. Ethnosentrisme
5. Politik Aliran
Yaitu : keadaan perpolitikan dimana terdapat beraneka ragam partai politik yang memiliki ideologi informal masing-masing selain ideologi formal (Pancasila) dan partai-partai tersebut diikuti oleh sejumlah organisasi massa (ormas) yang bernaung dibawahnya.

A.9. TIPE TIPE KELOMPOK SOSIAL


Tipe-tipe Kelompok Sosial
Mac Iver dan Page (1957: 124) menggolongkan kelompok sosial berdasarkan berbagai kriteria (ukuran). Simmerl dalam Systematic Society mendasarkan pengelompokkannya pada besar kecilnya jumlah anggota, cara individu, serta interaksi sosial dalam kelompok. Ukuran lain dalam klasifikasi kelompok sosial adalah berdasarkan interaksi sosial pada kelompok. Dalam pendekatan ini para sosiolog mendasarkan pengelompokannya pada derajat saling kenal mengenal pada anggota. Selain jut juga, kelompok sosial dapat dibagi berdasarkan kepentingan wilayah dan derajat organisasi
Kelompok Sosial dipandang dari Sudut Individu
Dapat dilihat dari keterlibatan individu dengan kelompok sosial dimana ia tinggal, apakah dalam masyarakat yang masih sederhana atau dalam struktur masyarakat yang sudah kompleks.
In Group dan Out Group
Konsep in Group dan out group merupakan pencerminan dari adanya kecendrungan sikap “etnocentrisme” dari individu dalam proses sosialisasi sehubungan dengan keanggotannya pada kelompok sosial yaitu suatu sikap dalam menikai kebudayaan lain dengan menggunakan ukuran sendiri (Polak 1996: 166). Sikap in group didasari perasaan simpati atau antipati. In Group dan out group dapat ditemui pada seluruh masyarakat yang susunannya sederhana maupun kompleks
Primary Group dan Secondary Group
Primary Group adalah kelompok-kelompok yang ditandai ciri-ciri kenal mengenal antara anggota-anggota serta kerjasamanya erat yang bersifat pribadi. Pendapat dari Selo Soemarjan dan Soemardi dalam “Setangkai bunga Sosiologi” (1964: 401) menyatakan bahwa Primary Group merupakan kelompok kecil yang permanen berdasarkan saling mengenal secara pribadi diantara anggotanya. Konsep Davis (1960: 290) memperjelas pendapat, Cooley bahwa ciri-ciri utama Primary Group adalah kondisi-kondisi fisik, sifat hubungan primer dan kelompok-kelompok yang konkret dan hubungan primer.
Secondary Group merupakan kebalikan dari Primari Group. Secondary Group sebagai kelompok-kelompok yang besar, yang terdiri dari banyak orang antara siapa hubungannya tidak perlu berdasarkan kenal mengenal secara pribadi dan sifatnjya tidak begitu langgeng.
Gemeinschaft dan Gesselschaft
Tonnies dan Loomis menyatakan bahwa Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggotanya diikat oleh hubungan batin yang bersifat alamiah dan dasar dari hubungan tersebut adalah rasa cinta dan kesatuan batin yang telah dikodratkan. Sedangkan Gesselschaft adalah berupa ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat imajiner dan strukturnya bersifat mekanis sebagaimana terdapat dalam sebuah mesin. Contoh bentuk Gemeinschaft adalah dijumpai dalam keluarga, kelompok kekerabatan dan rukun tetangga. Contoh Gesselschaft seperti ikatan antara pedagang, organisasi dalam suatu pabrik, industri
Formal Group dan Informal Group
Formal group merupakan kelompok yang mempunyai peraturan tegas yang sengaja diciptakan untuk mengatur hubungan diantara anggotanya. Biasa disebut juga Association dimana anggotanya mempunyai kedudukan yang disertai dengan pembagian tugas dan wewenang. Contohnya : perkumpulan pelajar, himpunan wanita, persatuan sarjana, sedangkan informal group tidak mempunyai struktur dan organisasi yang pasti. Contohnya : Klik (Clique) yang merupakan bentuk kelompok kecil tanpa struktur formil.
Kelompok Sosial yang tidak Teratur
Bentuk-bentuk kelompok sosial yang tidak teratur dapat digolongkan ke dalam dua golongan besar yaitu kerumunan (crowd) dan publik
Masyarakat Pedesaan (Rural Commumnity) dan Masyarakat Perkotaan (Urban Community)
Masyarakat Setempat (Community, Komunitas)
Ciri-ciri utama masyarakat setempat adalah adanya social relationship antara anggotanya. Kriteria masyarakat setempat menurut Davis (1960: 313) adalah :
  • Jumlah penduduk
  • Luas, kekayaan dan kepadatan penduduk daerah pedalaman
  • Fungsi khusus dari masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat organisasi masyarakat yang bersangkutan
Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
Ciri-ciri yang menonjol antara masyarakat pedesaan dan perkotaan menurut Soekamto (1982: 149) adalah kehidupan keagamaan, kemandirian, pembagian kerja, peluang memperoleh pekerjaan, jalan pikiran, jalan kehidupan dan perubahan sosial.
Sistem pelapisan sosial yang digambarkan dalam bentuk piramida dibagi menjadi :
  • Lapisan sosial tinggi (upper)
  • Lapisan sosial menengah (middle)
  • Lapisan sosial rendah (lower)
Proses terjadinya pelapisan sosial dapat terjadi dengan sendirinya dapat pula dengan sengaja disusun. Beberapa teori tentang pelapisan sosial yaitu : teori fungsionalis, teori reputasi dan teori struktur.

A.8. ORGANISASI DALAM KELOMPOK SOSIAL


Organisasi sosial

Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Berdasarkan sifat resmi tidaknya, dikenal ada dua jenis organisasi sebagai berikut :

[sunting]Organisasi Formal

Organisasi formal sifatnya lebih teratur, mempunyai struktur organisasi yang resmi, serta perencanaan dan program yang akan dilaksanakan secara jelas.
contohnya : OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia), LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dan lain-lain.

[sunting]Organisasi Informal

Karena sifatnya tidak resmi, pada organisasi ini kadangkala struktur organisasi tidak begitu jelas/bahkan tidak ada. Begitu juga dengan perencanaan dan program-program yang akan dilaksanakan tidak dirumuskan secara jelas dan tegas, kadang-kadang terjadi secara spontanitas.
Contohnya : kelompok pecinta puisi disekolah, fans club suatu grup musik, dan lain sebagainya.

A.7. LEMBAGA DALAM KELOMPOK SOSIAL


Dalam sosiologi, lembaga merupakan suatu sistem norma untuk mencapai tujuan tertentu yang oleh masyarakat dianggap penting. Sistem norma tersebut mencakup gagasan, aturan, tata cara kegiatan, dan ketentuan sanksi
Lembaga sosial terbentuk dari norma-norma yang hidup dimasyarakat. Norma-norma tersebut mengalami pelembagaan, yaitu proses menjadi bagian dari dari kehidupan masyarakat sehingga dikenal, diakui, dihargai, dan ditaati. Setelah proses pelembagaan , berlangsung internalisasi, yaitu proses penyerapan norma-norma oleh masyarakat sehinngga norma-norma atau telah berakar sebagai pedoman cara berfikir, bersikap, berprilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Lembaga sosial mempunyai fungsi sebagai berikut :
  1. Menjaga ketentuan masyarakat.
  2. Memberikan pedoman pada anggota masyarakat bagaimana bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat, terutama yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan manusia
  3. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial terhadap tingkah laku anggota-anggotanya. [2]
Lembaga pemerintahan saat ini
  • Lembaga tinggi negara
  • Kementerian negara
  • Lembaga pemerintah nonkementerian
  • Lembaga nonstruktural
  • Lembaga struktural di bawah kementerian negara. [3]
Lembaga pemerintahan yang telah dibubarkan
  • Lembaga tinggi negara
  • Kementerian negara
  • Lembaga Pemerintah Non Departemen
  • Lembaga nonstruktural.